BERITA

STAI Syamsul Ulum Gelar Diklat PPL 2012

Minggu, 19 Pebruari 2012 STAI Syamsul Ulum menggelar Dikl;at PPL untuk mahasiswsa yang akan melaksanakan PPL. PPL akan dilaksanakan tanggal 19 Pebruari sd. 19 Maret 2012.

PTAIN Harus Mampu Mencetak Sarjana Berakhlak Ulama

Abdul Halim | Sabtu, 26 November 2011 | 10:49:14 WIB | Hits: 92 | 0 Komentar

Jakarta (SI ONLINE) – Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, dalam aspek teknis operasional, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) harus mampu mengembangkan program studi dan mengawal kualitas lulusan pada semua strata pendidikan yang diselenggarakan. Sementara dalam non teknis, PTAIN diharapkan memiliki kekhususan, yaitu tidak sekedar mencetak sarjana un sich, tetapi lulusan juga diharapkan berkepribadian dan berakhlaq ulama.

“Ini yang membedakan PTAIN dengan perguruan tinggi lainnya, khususnya PT Umum,” tandas Menag Suryadharma Ali seraya meminta agar kualitas PTAIN semakin meningkat, membuka akses luas bagi lulusan madrasah atau sekolah untuk mengenyam pendidikan tinggi sesuai bakat dan potensinya dengan biaya terjangkau.

Hal itu dikemukakan Menag Suryadharma Ali pada sambutan pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian Agama di Jakarta, belum lama ini. Selanjutnya Menteri Agama Suryadharma Ali berharap PTAIN mampu menyeimbangkan pendidikan teknis dan non teknis. Sehingga selain menghasilkan sarjana juga melahirkan kader umat yang mampu memajukan dakwah, pendidikan dan kehidupan sosial menjadi lebih baik, sesuai dengan tuntutan zaman.

Pejabat yang dilantik adalah, Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah, S.H., M.Hum. sebagai Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menggantikan rektor terdahulu Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS. Selain itu, dilantik pula Dr. H. Zulkarnaini, M.A. sebagai ketua STAIN Zawiyah Cot Kala, Langsa, Provinsi Daerah Istimewa Aceh Darussalam.

Menag menuturkan bahwa saat ini, PTAIN telah berkembang pesat dan sedang berproses menuju penyempurnaan sesuai dengan perkembangan regulasi PT secara nasional, terutama blue print pengembangan pendidikan yang telah distandardkan oleh Kementerian Agama. “PTAIN (UIN, IAIN, dan STAIN) harus mampu memadukan aspek teknis dan non teknis dalam menyelenggarakan pendidikan,” terang Suryadharma Ali.

Menurut Menag, kedepan, Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam dengan berbagai upaya akan terus memberikan dukungan, pembinaan dan meningkatkan mutu pada semua jenjang pendidikan Islam. (*)


Menag Lantik Prof. Dr. Dedi Ismatullah Jadi Rektor UIN SGD

JAKARTA, (PRLM).- Menteri Agama H. Suryadarma Ali melantik Prof. Dr. H. Dedi Ismatullah, M.H, sebagai rektor baru UIN Sunan Gunung Djati (SGD) periode 2011-2015 menggantikan Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, Rabu (23/11), di Kantor Kemenag pusat Jln. Lapangan Banteng Jakarta. Pelantikan dihadiri Sekjen Kemenah Dr. H. Bahrul Hayat dan beberapa pejabat Kemeng, para pembantu rektor dan senat, dekan, dan dosen UIN SGD.

dediMenurut Menag, kedudukan UIN SGD amat vital terutama dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. “Tidak zamannya lagi membeda-bedakan antara perguruan tinggi umum dengan perguruan tinggi keislaman karena keduanya sama,” katanya.

Dia berpesan agar rektor baru lebih memajukan UIN SGD sehingga menghasilkan lulusan yang menguasai bidang kajiannya dan berakhlak baik. “Lulusan UIN juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi dan sosial yang baik agar bisa menjadi agen perubahan di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya. Selesai pelantikan dilanjutkan dengan serah terima jabatan dari Prof. Nanat Fatah Natsir kepada Prof. Dr. H. Dedi Ismatullah. (A-71/das)***

Sabtu, 15 Januari 2011
SEBANYAK 15 ORANG MAHASISWA STAI-STISIP SYAMSUL ULUM DAPAT BEASISWA
Reporter : ENDANG SUMARDI

Sebanyak 15 orang mahasiswa STAI-STISIP Syamsul Ulum Gunungpuyuh Kota Sukabumi, mendapat beasiswa pendidikan, bebas biaya kuliah selama menjalani pendidikan di STAI-STISIP Syamsul Ulum. Diberikannya beasiswa ini, karena ke-15 orang mahasiswa tersebut, mampu menghafal AL-Quran sebanyak 30 jus dengan baik dan benar, tepatnya pada saat pertama kali masuk menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi tersebut. Untuk itu, pihak Lembaga Tahfizul Quran Yayasan Syamsul Ulum Kota Sukabumi merekomendasikan, agar ke-15 orang mahasiswa tersebut mendapat beasiswa pendidikan.

Kepala Lembaga Tahfizul Quran Yayasan Syamsul Ulum Gunungpuyuh Kota Sukabumi, K.H. Maftukhin Ahmad AL-Hafidz menjelaskan, ke-15 orang mahasiswa yang mendapat beasiswa tersebut, ber-asal dari Pondok Pesantren Darul Huffadz AL-Matiin dan dari lingkungan sekitar Syamsul Ulum. Dijelaskan pula, pihaknya tidak membatasi jumlah mahasiswa, yang tertarik mengikuti program ini. Karena yang dapat menghafal AL-Quran sebanyak 30 jus ini sangat jarang. Sebab hingga saat ini masih ada image dalam pikiran masyakarat, bahwa untuk menghafal AL-Quran ini tidak akan menghasilkan. Selain itu, dalam pikiran masyarakat, ter-utama para orang tua memandang, setelah anaknya keluar dari Perguruan Tinggi tidak bisa bekerja, apabila menghafal AL-Quran. Ditandaskannya, para orang tua tersebut hanya memikirkan duniawi belaka, tanpa memikirkan bekal yang dapat dibawa ke akhirat kelak, yakni mengamalkan berbagai hal yang diperintah oleh AllahTaalla.

Kepala Lembaga Tahfizul Quran Yayasan Syamsul Ulum Gunungpuyuh Kota Sukabumi mengungkapkan, faktor lain dalam menghafal AL-Quran, yakni terkesan cukup berat. Sebab tidak sedikit anak yang memiliki potensi dan keinginan untuk menghafal AL-Quran, tidak didukung oleh orang tuanya, atau sebaliknya. Hal ini sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang sudah mengetahui dan merasakan kebarokahan AL-Quran, pasti akan langsung tertarik untuk melakukannya. Adapun kunci sukses untuk bisa menghafal AL-Quran dengan baik dan benar, sangat tergantung pada kemampuan dan kesungguhan anak. Berkaitan dengan hal tersebut, setiap orang yang memiliki potensi dan kemampuan menghafal AL-Quran sebanyak 30 jus, dapat mengikuti program tersebut, guna mendapatkan beasiswa pendidikan di STAI-STISIP Syamsul Ulum Gunungpuyuh Kota Sukabumi.

http://www.sukabumikota.go.id

703 Mahasiswa Syamsul Ulum Diwisuda

Posted by: staisyam on Desember 13, 2010

STAI-STISIP Syamsul Ulum Akan Berubah Jadi Universitas

Posted by: staisyam on Desember 13, 2010

Diberitahukan kepada mahasiswa semester VIII STAI Syamsul ‘Ulum Gunungpuyuh Sukabumi, bahwa Sidang Skripsi Gelombang II Tahun Akademik 2008-2009 akan dilaksanakan mulai tanggal 28 Agustus s.d. 6 September 2009 (jadwal terlampir) dengan ketentuan peserta yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut: Selengkapnya….


PROF. DR. DEDDY ISMATULLAH, SH, MH KANDIDAT HAKIM MK RI.

Sukabumi,…
Publik Sukabumi boleh berbangga hati. Pasalnya, salah satu putra terbaik yang dimiliki ternyata menjadi salah satu kandidat hakim Mahkamah Konstitusi. Seperti tertera dalam pengumuman Komisi III DPR RI, Prof Dr Deddy Ismatullah,SH,MH, masuk delapan besar peserta seleksi Hakim pada Mahkamah Konstitusi.
Bagi masyarakat Kota Sukabumi, nama Prof Dr Deddy Ismatullah SH, MH bukanlah nama yang asing. Selain menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi dan Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah juga adalah pimpinan pondok pesantren Syamsul ‘Ulum Gunung Puyuh Kota Sukabumi. Bahkan saat ini Deddy tercatat sebagai guru besar fakultas syariah dan hukum pada Universitas Islam Negeri Bandung.
Deddy Ismatullah adalah anak dari KH Badri Sanoesi, cucu dari KH Ahmad Sanusi yang dikenal sebagai ulama besar pendiri pondok pesantren Syamsul ‘Ulum Gunung Puyuh. selain dikenal memiliki kemampuan linuwih, juga seorang pelaku sejarah yang berjasa sebagai salah satu pendiri Republik Indonesia. Mengingat rumusan Pancasila, penah didiskusikan di Gunung Puyuh terutama pada sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Saat ini KH Achmad Sanusi di usulkan oleh Pemerintah Kota Sukabumi menjadi Pahlawan Nasional.
Sejak Tahun 2005 sampai saat ini Deddy Ismatullah aktif dalam berbagai organisasi. Diantaranya, selaku wakil direktur Pusat Kajian Parlemen, direktur pusat kajian kebijakan hukum dan ekonomi, wakil ketua komisi hukum dan hukum perundang-undangan MUI Pusat, serta wakil ketua dewan pakar PBPUI. Sedangkan ketua dewan pakarnya saat ini Achmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat).
Kepada wartawan, Prof Deddy menyatakan bahwa keikutsertaannya dalam fit dan proper test hakim pada Mahkamah Konstitusi didasari oleh motivasi perjuangan untuk umat. Deddy Ismatullah berpendapat bahwa harus selalu ada orang yang berjuang agar hukum positif yang berlaku di negeri tercinta ini tidak bertentangan dengan syariat islam. Tentu, sebagai guru besar pada fakultas syariah dan hukum juga selaku direktur pasca sarjana di UNIS Jakarta, Ia tahu benar apa yang diperjuangkan untuk kemaslahatan umat dalam konteks pengembangan hukum positif yang menjadi dasar dalam pengelolaan negara.
Deddy Ismatullah sendiri menyambut positif asas akuntabilitas publik dalam proses fit dan proper test yang dilakukan komisi III DPR RI. Masukan, saran dan kritik dari masyarakat luas atas delapan kandidat ditanggapi Deddy dengan sikap bersahabat. Ia menyatakan bahwa memang sudah seharusnya publik ikut terlibat dengan cara memberikan masukan, saran, dan kritik atas penjaringan delapan kandidat hakim mahkamah konstitusi. Tujuannya jelas, agar negeri ini mendapatkan putra putri terbaik dalam memimpin bangsa. AVHES

Calon Hakim MK Kagumi Piagam Madinah

[Rabu, 12 March 2008]
UUD 1945 dinilai memiliki beberapa persamaan dengan Piagam Madinah. Secara filosofis, hukum Islam pun sejalan dengan hukum nasional.

Pria dengan kening lebar itu tidak mengenakan peci. Ia juga tidak memakai baju ‘takwa’. Namun ia begitu semangat berbicara tentang hukum Islam. Saya setuju hukum nasional mengadopsi sebagian hukum Islam, ujarnya.

Pria itu adalah Prof. Deddy Ismatullah. Di hadapan anggota Komisi III DPR, Selasa (11/3) sore, kala menjalani  fit and proper test calon hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Deddy memang banyak bicara soal hukum Islam. Tak perlu heran, sebab ia merupakan Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Gunung Jati Bandung.

Anggota Komisi III DPR, Ahmad Fauzi, yang mula-mula ‘memancing’ Prof Deddy bicara tentang hukum Islam. Apakah Anda setuju sebagian hukum Islam diadopsi? Bagaimana dengan hukuman potong tangan? tanya wakil rakyat dari Fraksi Partai Demokrat ini.

Prof. Deddy menjelaskan, selain hukum adat dan hukum Eropa-Kontinental, sumber hukum nasional kita adalah hukum Islam. Hal itu sudah berlangsung sejak Indonesia dijajah Belanda dan Jepang. Tapi ia tidak sepakat bila hukum Islam diterapkan secara tekstual. Sebab, yang terbayang oleh masyarakat nanti hanyalah hukum potong tangan dan rajam.

Dalam konteks konstitusi, kata Deddy, harus diakui bahwa Piagam Madinah yang dibikin Nabi Muhammad di abad ke-7 ternyata mampu menjadi landasan bagi pembentukan negara hukum modern. Bahkan menurut pendapat seorang ahli, konstitusi Amerika Serikat merujuk kepada Piagam Madinah, tandasnya, tanpa menjelaskan siapa ahli dimaksud.

Tak hanya konstitusi Amerika, konstitusi Perancis juga terpengaruh oleh Piagam Madinah. Karena sebagian besar hukum nasional kita merujuk kepada hukum Eropa-Kontinental, akhirnya konstitusi kita juga terpengaruh oleh Piagam Madinah. Ada beberapa persamaan antara UUD 1945 dengan Piagam Madinah, ungkap Prof. Deddy. Di antara persamaan itu ialah keduanya sangat menghargai pluralisme. Di samping itu, keduanya juga mengakui kekuasaan mutlak Tuhan.

Sejatinya Deddy tidak berniat menerangkan seluk-beluk hukum tata negara Islam. Buktinya, yang ia bawa adalah makalah berjudul Mahkamah Konstitusi dalam Upaya Menegakkan Prinsip-Prinsip Negara Hukum.

Ia mengkritik kurangnya ruang untuk public hearing di MK. Ia juga mengeluhkan kurangnya sosialiasi putusan MK, sehingga banyak akademisi yang tidak bisa mengkajinya. Namun kritik yang terakhir ini disanggah anggota Dewan dari F-PAN, Patrialis Akbar. Menurut Patrialis, MK adalah lembaga yudikatif yang paling terbuka dan putusan-putusannya gampang diakses masyarakat lewat media massa.

Soal pengawasan, Deddy sepakat dengan pendapat bahwa hakim MK harus mau diawasi KY. Dari perspektif akademisi, tuturnya, check and balances antar lembaga negara sangat diperlukan. The power tends to corrupt, ia beralasan mengutip kata-kata terkenal Lord Acton.

Bila menjadi hakim MK, Deddy bertekad menjadi hakim yang tegas. Tidak bisa terbang bersama angin ke manapun, ujarnya.

Selain itu, ia juga berusaha kebal dari segala intervensi. Deddy diusung oleh Fraksi PPP. Karena itu, ia disebut-sebut sebagai salah satu calon yang bakal melenggang ke Medan Merdeka Barat No. 7. Bapak punya potensi jadi hakim MK, kata Arbab Paproeka, wakil rakyat dari F-PAN.

Alih Profesi

Calon hakim MK yang menjalani fit and proper test sebelum Prof. Deddy, Charles Sihombing, mendapat pertanyaan bertubi-tubi tentang alasan ia alih profesi dari polisi menjadi pengacara. Polisi dan pengacara itu bertolak belakang. Apa alasan Anda alih profesi? tanya Ahmad Fanani, dari F-PD.

Charles mengatakan, ia meninggalkan profesi polisi bukan karena desersi. Ia hanya ingin mengembangkan karir sebagai pengacara dan dosen. Ia juga menolak pendapat bahwa polisi dan pengacara merupakan profesi yang bertentangan. Polisi dan pengacara sama-sama penegak hukum, tandasnya.

Bekas polisi dengan pangkat terakhir Sersan Kepala ini melakoni fit and proper test berbekal makalah berjudul Putusan Mahkamah Konstitusi: Antara Kepastian Hukum dan Keadilan Hukum. Menurutnya, idealnya putusan MK harus menunjukkan kepastian hukum dan memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Charles tidak banyak ditanya soal visinya ke depan andai terpilih jadi hakim MK. Namun ia sempat kesulitan saat ditanya mengenai hukum acara yang bakal diterapkan MK bila menyidangkan perkara impeachment terhadap Presiden. Terus terang saya tidak tahu karena belum pernah melihat. Di Undang-Undang hal itu tidak dijelaskan, kata Charles.

Bila Prof Deddy disambut dengan antusias oleh anggota Dewan. Nasib sebaliknya diterima Charles Sihombing. Hanya sekitar satu jam ia sudah usai menjalani fit and proper test. Anggota Komisi III sepertinya enggan mendalami tiap jawaban yang dilontarkan Charles.


STAI – STISIP SYAMSUL ULUM SAMPAIKAN ASPIRASI MASYARAKAT
Reporter : Riksan / Tim Liputan Infokom
Wakil Walikota, Drs.H.Mulyono, M.M., pagi ini ( 4/6 ) menerima perwakilan mahasiswa STAI – STISIP Syamsul Ulum yang sedang melakukakan kuliah kerja lapangan dan kuliah pengabdian masyarakat di lima kecamatan yang ada di kota Sukabumi. Delegasi dipimpin oleh Ketua Biro Penelitian STISIP Syamsul Ulum, Erwin Sudjono.Erwin menyebutkan bahwa kegiatan mahasiswa yang sedang dilaksanakan dari tanggal 12 Mei sampai dengan 12 Juni 2008 ini bertujuan untuk mengadakan penelitian yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Selain itu juga sesuai dengan lingkungan kampus yang islami, penelitian ini juga bermaksud untuk memakmurkan masjid yang ada di tempat kegiatan kuliah pengabdian masyarakat. Dari hasil kuliah pengabdian masyarakat ini, didapat beberapa kesimpulan yang akan menjadi masukan bagi pemerintah daerah.Beberapa kesimpulan itu, seperti yang disampaikan oleh perwakilan mahasiswa, Aang Rohmatullah, diantaranya adalah peran lurah yang dirasa masih kurang dalam memberdayakan masyarakat, beberapa elemen masyarakat terutama pemuda membutuhkan lapangan pekerjaan sesuai dengan potensi yang dimiliki, juga masyarakat meminta pemerintah untuk menggiatkan dan memakmurkan masjid melalui kegiatan pengajian terutama pengajian bagi para pemuda – pemudi. Selain itu pula masyarakat meminta pemerintah melakukan peninjauan ke masyarakat selepas naiknya harga BBM. Selengkapnya terdapat 10 kesimpulan yang dihasilkan melalui audiensi dengan masyarakat sekitar tempat kuliah pengabdian masyarakat berlangsung.Wakil Walikota yang didamping beberapa kepala SKPD, sangat menyambut baik kehadiran perwakilan mahasiswa ini untuk menyampaikan hasil penelitiannya. Diakui oleh Wakil Walikota, bahwa penelitian yang berfokus kepada masyarakat bisa dijadikan masukan bagi pemerintah daerah untuk menjadi bahan pertimbangan pengambilan kebijakan pemerintah. Sesuai dengan salah satu poin dari tridharma perguruan tinggi, kegiatan seperti ini harus digalakkan. Kesimpulan – kesimpulan yang diutarakan pada kesempatan ini, ujar Wakil Walikota, akan dijadikan bahan masukan untuk ditindak lanjuti lebih jauh

PROF. DR. K.H. DEDDY ISMATULLAH MACHDI, S.H., M.H., TERPILIH KEMBALI MENJADI KETUA UMUM MUI
Reporter : ENDANG SUMARDI
Profesor Doktor K.H. Deddy Ismatulloh Machdi, S.H., M.H., terpilih kembali menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, periode tahun 2010-2015.Terpilihnya kembali Profesor Doktor K.H. Deddy Ismatulloh Machdi, S.H., M.H. sebagai Ketua Umum MUI Kota Sukabumi tersebut, berdasarkan hasil Musyawarah Daerah (Musda) MUI Kota Sukabumi, pada hari Senin, 28 Desember 2009, di Gedung Juang 45. Selain itu, juga berdasarkan usulan dari Alim Ulama se Kota Sukabumi.Ketua I Bidang Pembinaan Umat dan Pondok Pesantren MUI Kota Sukabumi, Ayi R. Asyari menjelaskan, pihaknya beserta para alim ulama se Kota Sukabumi, mengusulkan Ketua Umum MUI Kota Sukabumi periode tahun 2005-2010, untuk menjadi kembali Ketua Umum MUI Kota Sukabumi periode tahun 2010-2015, karena selain memiliki pandangan wawasan keimanan dan pengetahuan yang sangat tinggi, Ketua Umum MUI Kota Sukabumi periode tahun 2005-2010, memiliki hubungan atau kemitraan yang sangat baik dan sinergis dengan pihak pemerintah dan masyarakat. Disamping itu, juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi, termasuk dalam mengambil dan menentukan kebijakan dalam berbagai bidang, yang sebelumnya senantiasa dirumuskan terlebih dahulu dengan jajaran pengurus MUI lainnya, melalui mufakat dan bermusyawarah.Namun dengan terpilihnya kembali Profesor Doktor K.H. Deddy Ismatulloh Machdi, S.H., M.H. sebagai Ketua Umum MUI Kota Sukabumi periode tahun 2010-2015, para Alim Ulama se Kota Sukabumi mengharapkan, apabila tidak berkeberatan agar melepaskan salah satu jabatan, yakni sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Kota Sukabumi. Sebab MUI merupakan bagian dari organisasi, yang senantiasa melakukan pembinaan kepada para DKM. Selain itu, juga supaya lebih fokus melaksanakan berbagai program di MUI Kota Sukabumi.Dalam pada itu, Ketua Umum MUI Kota Sukabumi periode tahun 2010-2015, Profesor Doktor K.H. Deddy Ismatulloh Machdi, S.H., M.H. menjelaskan, program yang akan dilaksanakan ke depan, diantaranya akan meng-intensifkan MUI dalam berbagai bidang, dan melaksanakan program kerja berdasarkan hasil Musda Tahun 2009. Selain itu, juga ada dua fungsi yang akan senantiasa dilaksanakan oleh MUI, yakni sebagai penasehat pemerintah, dan sebagai pembina umat

WALIKOTA SUKABUMI SECARA RESMI MEMBUKA KULIAH TAARUF
Reporter : ENDANG SUMARDI
Walikota Sukabumi, H. Mokhamad Muslikh Abdussyukur, S.H., M.Si., hari Sabtu, 21 November 2009, di Gedung Pusat Kajian Islam Kota Sukabumi, secara resmi membuka Kuliah Ta’aruf, yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Syamsul Gunungpuyuh Kota Sukabumi.Kuliah Ta’aruf yang mengambil tema, Membangun Sinergitas Kemandirian Mahasiwa Dengan Sistem Akademik, Upaya Mencetak Intelektual Yang Ber-akhlak ini, diikuti oleh 445 orang Calon Mahasiswa, yang terdiri dari Calon Mahasiswa STAI sebanyak 276 orang, dan Calon Mahasiswa STISIF sebanyak 169 orang.Dalam sambutannya Walikota Sukabumi menjelaskan, kepemerintahan yang baik atau good governance/ adalah keperintahan yang bisa sinergik dengan tiga dolmen/ yakni government, privat sector, dan sivil society. Untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik, Pemerintah Kota Sukabumi senantiasa ber-upaya optimal merealisasikan harapan dan tujuan masyarakat Kota Sukabumi, yang dituangkan dalam bentuk public police, serta dilegalisir dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Sukabumi Tahun 2005-2025, dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Sukabumi 5 tahunan, yang dituangkan dalam Rencana Tahunan, khususnya yang berbentuk kebijaksanaan umum anggaran. Berkaitan dengan hal tersebut, Visi Kota Sukabumi Tahun 2005-2025, yakni Terwujudnya Kota Sukabumi Sebagai Pusat Pelayanan Berkualitas Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Perdagangan di Jawa Barat, Berlandaskan Iman dan Taqwa; serta Visi Walikota dan Wakil Walikota Sukabumi Tahun 2008-2013, yakni Dengan Iman dan Taqwa Mewujudkan Pemerintahan yang Amanah Berparadigma Surgawi, Menuju Kota Sukabumi yang Cerdas, Sehat dan Sejahtera, baik lahir maupun batin, dilandasi nilai-nilai fhilosofis, Sidiq, Tabligh, Amanah, Fathonah.Pada bagian lain sambutannya, Walikota Sukabumi menyambut baik dan mendukung 1000 persen, atas rencana penggantian nama Perguruan Tinggi Syamsul Ulum Gunungpuyuh, menjadi Universitas atau Institut Kiayi Haji Ahmad Sanusi. Karena almarhum Kiayi Haji Ahmad Sanusi, merupakan salah seorang pahlawan dan pendiri Republik Indonesia, yang tergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, serta baru-baru ini mendapat penghargaan Maha Putera Adi Pratama dari Pemerintah Pusat. Diharapkannya, pada tahun depan menjadi Pahlawan Nasional. Karena bangsa yang besar, yakni bangsa yang senantiasa menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan. Selain itu juga diharapkan, Perguruan Tinggi Syamsul Ulum Gunungpuyuh, senantiasa menghasilkan lulusan yang berkualitas, serta berguna bagi bangsa dan negara.

Responses

  1. Situs situs dengan liputan yang dimuati oleh berita- berita terbaru sangat ditunggu, untuk menambah pengetahuan Siswa/i Alumni ataupun yang masih aktif di STAI/STISIP Syamsul ulum Sukabumi…… maju terus………..

  2. Pasti, mohon dukungannya


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: