PENDIRI

Profil KH. Ahmad Sanusi

K.H. Ahmad Sanusi yang biasa dipanggil Ajengan Sanusi, lahir di Kewedanan Cibadak, Sukabumi pada tahun 1881 dan wafat di Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi tahun 1950. Sejak kecil beliau belajar ilmu agama dari ayahnya sendiri, K.H Abdurrahim, pemimpin Pesantren Cantayan di Sukabumi. Selanjutnya ia belajar dari pesantren ke pesantren di daerah Jawa Barat. Pada tahun 1904 K.H. Ahmad Sanusi berangkat ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Sewaktu beliau bermukim di Mekkah pada tahun 1913, K.H. Ahmad Sanusi diajak untuk masuk menjadi anggota SI. Sejak itulah K.H. Ahmad Sanusi menjadi anggota SI.
Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1915, beliau membantu ayahnya membina Pesantren Cantayan sambil membina para ulama. Kemudian tahun 1922 K.H. Ahmad Sanusi mendirikan pesantren Genteng Babakan Sirna, Cibadak, Sukabumi. Dalam menyampaikan dakwah, K.H. Ahmad Sanusi mempunyai metoda yang keras, radikal, tegas, dan teguh pendirian. Beliau merombak cara belajar santri dengan duduk tengkurap (ngadapang) diganti dengan duduk di bangku dan meja dan diterapkan sistim kurikulum berjenjang (klasikal).
Pada bulan Nopember 1926 meletus pemberontakan di Jawa Barat yang dikenal sebagai Gerakan Syarikat Islam (SI) Afdeeling B yang merupakan perlawanan rakyat jelata terhadap pemerintah kolonial Belanda. K.H. Ahmad Sanusi bersama santri-santri Pesantren Genteng Babakan Sirna dituduh terlibat dalam pemberontakan tersebut, sehingga beliau ditangkap dan masuk penjara di Sukabumi 6 bulan dan di Cianjur 7 bulan. Kemudian pada tahun 1927 beliau diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Tanah Tinggi, Jakarta selama 7 tahun (1927-1934). Dalam pengasingannya, K.H. Ahmad Sanusi tetap terus berdakwah menyebarluaskan ilmunya dengan giat dan istiqomah, sehingga seluruh masjid yang ada di Jakarta masa itu sempat dikunjungi dan bertabligh.Beliau juga menulis buku-buku dan siaran-siaran (buletin) tentang ilmu keislaman serta Karya yang paling menonjiol adalah Raudhatul Irfan . berisi terjemah Al-Quran 30 juz dalam bahsa Sunda, dengan terjemah kata- per- kata dan syarah (tafsir penjelasa) singkat. Tafsir ini telah dicetak ulang berpuluh kali dan sampai sekarang masih digunakan di Majlis-majlis Ta’lium di Jawa Barat. Karya monumental lainnya adalah serial Tamsyiyyatul Muslimin, tafsir Al-Quran dalam bahasa Melayu /Indonesia. Setiap ayat-ayat al-Quran disamping ditulis dalam huruf Arab juga ditulis (transliterasi) dalam huruf Latin. Pada waktu itu banyak ulama memandang hal itu sebagai suatu bid’ah yang haram, sehingga menjadi perdebatan. Melalui pemahaman ummat Islam terhadap Al-Quran, serial tafsir itu sarat dengan pesan-pesan tentang pentingnya harga diri, persamaan, persaudaraan dan kemerdekaan di kalangan ummat.

Pada tahun 1931 masih dalam masa pembuangan, K.H. Ahmad Sanusi mendirikan perhimpunan “Al-Ittihadiyatul Islamiyah” (AII) yang bergerak dalam sosial pendidikan sekaligus wadah pergerakan nasional untuk menanamkan harga diri, persamaan, persaudaraan dan kemerdekaan yang Pada tahun 1934 K.H. Ahmad Sanusi dikembalikan oleh pemerintah Belanda ke Sukabumi dengan status tahanan kota selama 5 tahun, Kedudukan Pengurus Besar AII pun dipindahkan ke Sukabumi. Pada tahun itu juga, K.H. Ahmad Sanusi mendirikan Pesantren Gunung Puyuh di Sukabumi yang masih berjalan sampai sekarang.

Pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1943 beliau diangkat sebagai penasihat pemerintah Keresidenan Jepang, suatu syarat agar AII bisa dihidupkan setelah dibekukan Pemerintah Jepang bersama-sama seluruh organisasi kemasyarakat lainnya. Pada tahun 1944 beliau diangkat sebagai Wakil Residen Bogor. Selanjutnya ditunjuk menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia.

Sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dibentuk segera setelah Proklamasi 17-8-1945, beliau ikut bersama RI ke Yogya. Setelah kembali ke Sukabumi, pada tahun 1950, Ajengan K.H.Ahmad Sanusi, berpulang ke hadirat Ilahi. Pemerintah Indonesia mengakui jasa-jasanya sebagai salah seorang pendiri Republik Indonesia dengan menganugerahkan Bintang Maha Putera Utama kepada Almarhum.

http://pppui.blogspot.com

KH. Ahmad Sanusi adalah Mufassir Sunda

Membicarakan karya tafsir di Indonesia, kerap berangkat dari corak penafsiran yang terkandung di dalamnya. Ini berkaitan dengan cara penyampaian dan klasifikasi materi yang bermuara pada sejauhmana karya tafsir mudah dipahami oleh para peminatnya. Begitu juga, bagaimana kelebihan satu karya tafsir dengan yang lainnya. Hanya saja, biasa dibatasi dengan karya tafsir yang berbahasa Arab dan atau Indonesia. Kita jarang menemukan –untuk tidak menyebutnya tidak ada– telaah kritis atas karya tafsir yang menggunakan bahasa daerah tertentu. Studi tersebut sangat penting untuk melihat sejauhmana efek intelektual karya tafsir dengan kondisi sosial-budaya yang mengitarinya.Relefansi tafsir dengan bahasa daerah bukan dimaksudkan sebagai piranti lunak untuk menyuburkan rasa fanatisme etnis yang bertentangan dengan paham universilitas Islam (rahmatan lil ‘âlamîn). Akan tetapi, dengan meminjam Istilah M. Quraish Shihab, Direktur Pusat Studi Al-Quran Jakarta, sebagai upaya ‘membumikan Al-Quran’ dalam masyarakat pluralistik yang meniscayakan sebuah proses yang terus menerus tanpa henti. Lebih Lanjut M. Quraish (Membumikan Al-Qur’an, Mizan, 2004) telah menyuguhkan format dakwah dalam Al-Qur’an, harus memperhatikan lokus budaya dan bahasa di mana nilai-nilai Al-Quran akan disampaikan. ‘Sampaikanlah ajaranku dengan mempergunakan lisan umatnya’ demikian kata Hadits Nabi. Bahasa adalah simbol yang padat makna dan sarat arti sehingga memungkinkan transformasi nilai secara sistemik dalam nalar komunitas yang menjadi sasaran dakwah tersebut.

Beberapa karya Tafsir dan atau terjemahan sunda menarik untuk dicermati. Sebagaimana sebuah disiplin ilmu, ia mempunyai titik awal yang jadi peletak dasar-dasar untuk menelorkan karya-karya ilmiah sesudahnya. KH. Ahmad Sanusi, sebagai mufassir sunda legendaris, bisa dijadikan sampel bagi para calon mufassir sunda lainnya. Jas Merah; Jangan melupakan sejarah!, begitu kata presiden pertama kita Soekarno. Kalau saja beliau tidak menelorkan karya tafsir sundanya itu, mungkin proses terbentuknya kesadaran akan urgensitas tafsir sunda tidak dimulai lebih cepat. Atau sama sekali belum ada sampai sekarang.
Sosok Mufassir Sunda

KH. Ahmad Sanusi, orang sunda memanggilnya dengan sebutan Ajengan Sanusi, Ajengan Cantayan, atau Ajengan Genteng ((Kiai Haji Ajengan Ahmad Sanusi, PUI, Jkt, 1993) adalah seorang ulama berpengaruh abad 20 di tanah parahiayangan. Ia dilahirkan pada 18 September 1989M/3 Muharram 1306, di Cantayan sebuah desa di Cibadak, Sukabumi sekitar 20 km arah Barat kota Sukabumi. Akibat timbulnya pertentangan dengan pemerintah Belanda, Haji Yasin Sebagai keturunan Suria Dadaha Dalem Sawidak Sukapura Tasikmalaya –ayah Haji Abdurrahim dan kakeknya Ahmad Sanusi—pindah ke Sukabumi dan mendirikan pesantren sambil menjadi amil di desa cantayan Sukabumi.

Uci –panggilan untuk KH. Ahmad Sanusi—sebagai representasi dari keturunan kiai yang melanjutkan estafet dakwahnya. Dalam pribahasa sunda kita mengenalnya dengan ungkapan “anak merak kukuncungan uyah tara tees ka luhur’. Uci pu meniti tangga keilmuan di tanah suci selama hampir sebelas tahun. Kemudian terlibat langsung dalam gerakan Islam sampai menjabat terakhir sebagai Shu Sangi Kai dan Wakil Residen semasa pendudukan Jepang di tanah air.

Selepas itu, beliau lebih banyak terlibat dalam dunia pendidikan dan menulis buku sebanyak 125 buah yang meliputi berbagai bidang agama, yang ditulis baik dalam bahasa sunda maupun bahasa Indonesia. Sosok ulama sunda ini dipenuhi aktifitas sosial keagamaan plus mewariskan karya yang sangat berharga dan bisa dibanggakan oleh urang sunda.

Salah satu karya KH. Ahmad Sanusi yang banyak dikenal di masyarakat Sunda adalah kitab Raudhah al-‘Irfân fi ma’rifah al-Qur’ân yang bisa dikatakan sebagai kitab tafsir sunda. Beliau adalah salah satu dari tiga ulama Sunda (Jawa Barat) yang produktif menelorkan kitab-kitab asli Sunda yang berisi tentang ajaran agama Islam. Dua yang lainnya, adalah Rd. Ma’mun Nawawi bin Rd. Anwar yang menulis berbagai risalah singkat. Begitu juga ulama sekaligusi penyair terkenal, ‘Abdullah bin Nuh dari Bogor yang menulis karya-karya penting tentang ajaran-ajaran sufi, yang didasarkan atas pandangan al-Ghazâli.

Martin Van Bruinessen (Kitab Kuning, Mizan 1996), peneliti senior asal Belanda, menyebut ketiganya sebagai penulis karya orisinil dan bukan pen-syarah (penyempurna) atas kitab-kitab tertentu, sebagaimana umumnya dilakukan oleh ulama-ulama Indonesia pada abad XIX. Kitab Raudhatu al-‘Irfân fi ma’rifati al-Qur’ân bisa dikatakan sebagai starting point di tengah tradisi tulis-baca di dunia pesantren yang belum cekatan dalam menelorkan karya tafsir yang utuh.

Tidak kurang dari sekian banyak pesantren di ranah parahyangan mempergunakan kitab tafsir ini dalam proses belajar-mengajar. Begitu juga, “pengajian kampungan” di lingkungan masyarakat yang dibimbing oleh para almuni pesantren-pesantren di Jawa Barat tersebut, baik yang dilakukan secara rutin (berkala) maupun pada waktu tertentu (insidentil). Dengan gampang kita menemukan kitab tafsir ini di beberapa toko-toko kitab di pasar-pasar tingkat kecamatan sekalipun. Naik cetaknya juga sudah tidak terhitung berapa kali, sejak diterbitkan oleh beberapa penerbit yang berbeda-beda dan tanpa tahun penerbitan pertama.

Model Tafsir Subda

Kitab ini terdiri dari dua jilid, jilid pertama berisi juz 1-15 dan jilid kedua berisi juz 16-30. Dengan mempergunakan tulisan Arab dan bacaan Sunda, ditambah keterangan di samping kiri dan kanan setiap lembarnya sebagai penjelasan tiap-tiap ayat yang telah diterjemahkan. Model penyuguhan tersebut, bukan saja membedakannya dari tafsir yang biasa digunakan di pesantren dan atau masyarakat Sunda umumnya, melainkan berpengaruh banyak pada daya serap para peserta pengajian. Tulisan ayat yang langsung dilengkapi terjemahan di bawahnya dengan tulisan miring akan membuat pembaca langsung bisa mengingat arti tiap ayat. Kemudian, bisa melihat kesimpulan yang tertera pada sebelah kiri dan kanan setiap lembarnya.
Keterangan yang ada di bagian kiri-kanan di setiap lembarnya, berisi kesimpulan dari ayat yang tertulis di sebelahnya dan penjelasan tentang waktu turunnya ayat (asbâb an-nuzûl), jumlah ayat, serta huruf-hurufnya. Kemudian, disisipi dengan masalah tauhid yang cenderung beraliran ‘Asy’ari dan masalah fikih yang mengikuti madzhab Syafi’i. Kedua madzhab dalam Islam itu memang dianut oleh kebanyakan masyarakat muslim di wilayah Jawa Barat. Dari sini terlihat bagaimana KH. Ahmad Sanusi mempunyai strategi tersendiri dalam menyuguhkan ayat-ayat teologi dan hukum yang erat kaitannya dengan paham masyarakat pada umumnya.

Pengertian perkata yang ada dalam tafsir ini nampaknya diilhami oleh Tafsîr Jalâlain Karya Jalâluddîn al-Suyûthî dan Jalâluddîn al-Mahallî yang banyak dipergunakan di lingkungan pesantren Jawa. Ini terlihat dari awal penafsiran surat al-Fâtihah sampai surat-surat yang sesudahnya. Model Tafsîr Mufradât (tafsiran kata per kata) yang melekat pada tafsir al-Jalâlain telah berpengaruh banyak atas diri KH. Ahmad Sanusi ketika meracik tafsirannya untuk setiap kata dalam surat-surat al-Quran. Mungkin ini yang bisa dilakukan ketika tafsir yang dibuat sengaja diarahkan untuk dikonsumi oleh kebanyakan masyarakat muslim sunda yang belum terbentuk kesadarannya secara sempurna akan teks kitab suci. Pada kenyataanya, pengguna tafsir ini memang terpikat karena gaya penafsiran perkata itu.

Belakangan ini, kita juga menemukan terjemahan Sunda yang diterbitkan dengan lisensi dari MUI Jawa Barat. Ada sebagian kalangan yang menduga, bahwa setelah kemunculan tafsir karya KH. Ahmad Sanusi di atas, kebutuhan masyarakat Sunda atas pengetahun tafsir al-Quran semakin meningkat. Hal itu tidak berbanding lurus dengan kemampuan untuk menyerap langsung dari kitab-kitab yang bertuliskan “Arab asli”. Saya kira, inilah yang kemudian menjadi motifasi untuk menyuguhkan terjemahan al-Quran “versi Sunda” yang banyak dilakukan oleh beberapa penerbit pasca kemunculan karya KH. Ahmad Sanusi.

Kecuali itu, faktor yang menyebabkan kitab ini banyak dipergunakan oleh masyarakat muslim Sunda, adalah ketokohan penulisnya. KH. Ahmad Sanusi yang dikenal sebagai pendiri organisasi Al-Ittihadiyyatul Islamiyah, yang bergabung ke dalam Persatuan Ummat Islam (PUI) pada tahun 1952. Beliau pun dikenal sebagai salah satu penganut Tarekat Qadiriyah yang banyak dianut oleh masyarakat pra/pasca kemerdekaan. Bahkan, para pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan, kerap meminta ajaran dan kekebalan kepada KH. Ahmad Sanusi berkaitan dengan terjemahan Manâqib Abdulqâdir Jailânî yang kemudian jadi pedoman Tarekat Qadiriyah itu.

Dalam konteks ini, pertimbangan pilihan karya terlihat dipengaruhi oleh faktor tertentu (baca ketokohan) terlepas dari keberadaan isi yang terkandung di dalamnya. Secara sosiologis, masyarakat muslim –khususnya di pedesaan– memang mempunyai tingkat apresiasi tinggi terhadap seorang tokoh yang dikenalnya. Cara beragama sedikit banyak dipengaruhi oleh kharisma tokohnya yang terbentuk secara alamiha. Karena kharisma, dalam sosiologi agama mempunyai peran besar dalam transformasi idiologis dalam masyarakat yang cendrung feodal-tradisionlis. Lebih dari itu, sisa-sisa kepercayaan animisme yang tidak bisa lepas dari aspek mitologi, dalam batas tertentu bisa jadi mempengaruhi ‘cara pandang idiologis’ setiap individunya, tidak terkecuali bagi tokoh agamanya.

Hanya saja, apresiasi atas karya KH. Ahmad Sanusi ini pada proses selanjutnya lebih diarahkan pada ‘kepentingan pragmatis’ untuk mencerna pesan Qur’ani, tanpa dihubung-hubungkan dengan mitologi atas diri KH. Ahmad Sanusi sebagaimana analisis di atas tadi. Berdasarkan reportase penulis ke beberapa pengguna dan pengajar di wilayah Jawa Barat, kelebihan kitab ini teletak pada kemudahan pesan dan kesan yang disampaikan oleh penulisnya. Meski mempergunakan tulisan Arab dengan bacaan Sunda, tapi para peserta pengajian dapat menyerapnya dengan mudah. Padanan kata yang digunakannya pun, sesuai dengan kosakata keseharian yang mana tidak membutuhkan waktu dan tenaga untuk menyerap isinya. Begitu juga, pengalih-istilahan arti yang disesuaikan dengan simbol-simbol makna bahasa Sunda. Seperti mengartikan kata dzarrah dengan biji sawi, yang diakui dan dikenal sebagai benda yang terkecil dalam tradisi bahasa Sunda.

Sepertinya, model tafsir yang mempunyai dialektika dengan simbol-simbol makna yang disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu tertentu mempunyai titik fungsional tersendiri. Seorang pembaca diajak menelusuri makna yang memang hadir di dalam kehidupannya sehari-hari dan langsung terasa getarannya. Kontekstualisasi tafsir semakin terlihat dalam karya KH. Ahmad Sanusi manakala membaca setiap arti kata yang berusaha dikorelasikan dengan padanan bahasa Sunda. Dan, beliau berhasil menelorkan karya itu di tengah masyarakat yang haus akan kebutuhan pesan-pesan Qur’ani yang relevan dengan realitas keseharian mereka.

Kitab Tafsir ini merupakan karya monumental dari seseorang yang bergelut lama di dunia belajar-mengajar di lingkungan pesantren. Bacaan atas teks-teks tafsir Arab yang ada di lingkungannya telah menginspirasikan KH. Ahmad Sanusi untuk membuat sebuah karya yang sampai sekarang layak dijadikan contoh oleh para pengkaji tafsir, khususnya yang berbahasa Sunda. Karena tafsir adalah nalar kita atas kitab suci yang dibentuk oleh lokus budaya dan bahasa yang terus bergerak. Intelektual muslim sunda sedianya melanjutkan estafet KH. Ahmad Sanusi, sehingga Al-Quran akan sesuai dengan perubahan ruang dan waktu (shâlihun li kulli zamân al makân). Wa Allâh ‘alam bi ash-shawâb.

Dua Ulama Jabar Dapat Gelar Pahlawan Nasional

SUKABUMI – KH Ahmad Sanusi akhirnya dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Pemerintah RI. Rencanannya, pemberian gelar ini akan disampaikan langsung Presiden SBY saat peringatan Hari Pahlawan.Selain itu, gelar kehormatan itu juga akan diberikan kepada KH Abdul Halim. Selama ini kedua ulama asal Sukabumi dan Majalengka itu dikenal berpartisipasi aktif dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.

Menurut KH Maman Abdurahman, cucu tertua KH Ahmad Sanusi, kepastian pemberian gelar kehormatan itu berdasarkan informasi dari sejumlah petinggi Persatuan Umat Islam (PUI).

“Secara resmi surat penganugerahan itu belum kami terima, tapi soal kabar KH Ahmad Sanusi ditetapkan sebagai pahlawan nasional sudah kami terima sejak beberapa hari lalu. Termasuk dari keluarga KH Abdul Halim di Majalengka yang mengaku sudah terlebih dahulu menerima surat dari Pemerintah RI,” ujarnya di Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (7/11/2008).

Disebutkannya, penganugerahan ini bukan semata-mata berdasarkan usulan dari PUI. Usulan penobatan gelar pahlawan nasional sudah dirintis oleh pihak keluarga, PUI, maupun Pemda Kota Sukabumi sejak tahun 1996.

“Usulan ini sempat terkendala beberapa persyaratan adminstratif. Tapi pada pada tahun 2006 lalu, Pemerintah RI mengakui seluruh jasa-jasa keduanya sebagai pendiri bangsa yakni dengan pemberian anugerah Bitang Maha Putera Utama,” terang KH Maman.

Salah satu persyaratan yang telah ditempuh untuk meraih penganugerahan bagi KH Ahmad Sanusi itu adalah salah satunya menggelar seminar rekam jejak KH Ahmad Sanusi yang digagas oleh Pemkot Sukabumi, Pemprov Jabar, dan juga PUI.

Perlu diketahui, KH Ahmad Sanusi dikenal sebagai pendiri Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII). Sekarang organisasi ini telah berganti nama menjadi PUI. Selain itu, dia merupakan pendiri Ponpes Syumsul Ulum.

KH Ahmad Sanusi semasa hidupnya juga dikenal luas sebagai ulama ahli tafsir. Salah satu karyanya adalah kitab Malja Al Talibin fi Tafsir Kalam Tabb Al Alamin.

Adapun KH Abdul Halim dikenal sebagai ulama besar dan tokoh pembaharuan yang berasal dari Kab Majalengka. Pendiri organisasi perjuangan Hayatul Qulub ini banyak berjuang di bidang pendidikan dan perbaikan perekonomian.

KH Abdul Halim juga tercatat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945. (Toni Kamajaya/Sindo/ful)

Sumber : http://news.okezone.com

AHMAD SANUSI BERJUANG LEWAT DAKWAH

PDF Print E-mail
Tuesday, 17 March 2009 10:02
Gubernur Jabar, “Ia Pantas Menyandang Gelar Pahlawan Nasional”Terik matahari pada Jumat (13/3) tidak menyurutkan Anwar Mulyana dan Muhtar, pengasuh Pesantren Gunung Puyuh untuk berdoa di makam K.H. Ahmad Sanusi. Pada hari yang sama dan di tempat berbeda, nama K.H. Ahmad Sanusi diusulkan menjadi pahlawan nasional. Meski bukan yang pertama kali, masyarakat bersama unsur pemerintahan kini tengah mengumpulkan data-data yang terkait tokoh pejuang kemerdekaan dari Sukabumi ini.

Menurut Dr. Sulasman, M. Hum. perjuangan K.H. Ahmad Sanusi memang tidak bisa diragukan lagi terlebih saat memperjuangkan kemerdekaan. Ahmad Sanusi yang lebih dikenal dengan Ajengan Genteng itu dikhawatirkan oleh penjajah karena dalam dakwahnya selalu menyatakan, bahwa setiap manusia itu memiliki derajat yang sama. Dan itu juga yang menyebabkan ia diasingkan selama 7 tahun di Batavia (Jakarta sekarang) dan 7 bulan di Cianjur.

“Saat itu Ajengan Genteng dinilai kurang memiliki nilai perjuangannya dan dianggap berpihak pada penjajah. Padahal itu merupakan salah satu cara untuk memperjuangkan kemerdekaan. Seperti halnya pada Teuku Umar yang bekerja sama dengan penjajah untuk mengetahui kekuatan lawan. Itu bukan sebuah pengkhianatan melainkan perjuangan dengan masuk ke daerah penjajah sehingga mengetahui apa kelemahan penjajah,” tutur Sulasman, salah satu pembicara dalam Seminar Pengusulan Ahmad Sanusi sebagai Pahlawan Nasional di Gedung Juang 45, Jumat (13/3).

Pengusulan Ahmad Sanusi ini pun mendapatkan dukungan dari masyarakat Sukabumi maupun Cianjur. Gurbernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, pengajuan Ahmad Sanusi ini masih dalam proses pelengkapan data-data yang kurang dan berbagai tahapan. Pihaknya juga mendukung pengajuan ini yang dokumennya akan langsung diserahkan kepada Menteri Sosial.

“Kami siap membantu pengusulan ini. Tentu saja ada beberapa tahapan yang harus dilakukan seperti administrasi kenegaraan, tahapan usulan masyarakat, pemerintah daerah. Setelah ada pengusulan dan seminar kita tanda tangani lalu kita usulkan kepada Menteri Sosial RI secepatnya,” ujar Heryawan.

Selain itu, lanjut Heryawan, ketika Ahmad Sanusi diasingkan, semangat perjuangan tidak pernah padam. Dakwah yang ia lakukan selama ini tercetak dalam buku berbahasa Sunda, Indonesia dan transliterasi dalam huruf latin. “Ahmad Sanusi sangat pantas disebut sebagai pahlawan nasional karena memiliki umur sejarah besar, rela berkorban, membebaskan rakyat termasuk dalam membela kemerdekaan,” ujar Gubernur.

Selain Ahmad Sanusi, Pemprov Jabar juga tengah mengajukan 3 calon lagi yang sampai saat ini masih dalam proses. Tiga calon itu adalah Mr. Syafrudin Prawiranegara, Ibu Inggit Garnasih dari Bandung dan K.H. Mustafa Kamil dari Garut. Di Jawa Barat sendiri baru 12 orang pejuang yang menjadi diberi gelar pahlawan nasional.

Tidak terawat

Dari pengamatan Pakuan, di kompleks makam Ahmad Sanusi, tampak tidak terawat. Tumbuhan alang-alang setinggi pinggang orang dewasa menutupi areal pemakaman pahlawan ini. Meski kerap dikunjungi para santri Pesantren Gunung Puyuh, makam keluarga itu terlihat tidak terawat. Muhtar salah seorang warga yang tengah berziarah ke sana mengatakan, perawatan kompleks makam ini memang dilakukan oleh para santri. Keluarga Ahmad Sanusi sendiri memang tidak menginginkan makam ini dibuat megah.

“Dahulu banyak orang yang berziarah ke sini. Tetapi dikhawatirkan menjadi musyrik karena orang yang datang malah melakukan hal-hal yang menyimpang. Bahkan sempat ada orang yang mengambil tanah di kompleks ini karena dinilai memiliki khasiat tertentu. Pada akhirnya keluarga memutuskan untuk tidak membuat makam menjadi megah seperti makam-makam keramat,” ujar Muhtar.

Wakil Wali Kota Sukabumi H. Mulyono mengatakan pihaknya tidak akan melakukan renovasi agar dibuat lebih megah karena permintaan keluarga. Khusus untuk perawatan makam, ia berjanji akan melakukan perawatan agar lebih layak. “Kita sendiri pernah mengajukan untuk direnovasi, tetapi keinginan keluarga untuk dibuat secara sederhana saja. Mengenai perawatan kami akan bantu agar terlihat lebih bersih dan layak untuk diziarahi,” jelasnya. (PK-2)***


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 17 Maret 2009

Perjuangan Tanpa Batas KH Ahmad Sanusi

Jurnal Bogor, 11 November 2009

Perjuangan tanpa batas untuk menempatkan KH Ahmad Sanusi sebagai Pahlawan Nasional akan terus dilakukan Pemda Kota dan Kabupaten Sukabumi. Kendati demikian, kedua pemerintah daerah ini masih tetap menghormati KH Ahmad Sanusi sebagai pejuang nasional. Dia layak disejajarkan dengan tokoh pahlawan nasional lainnya mengingat jasanya cukup besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Di bidang pendidikan, Ahmad Sanusi berjasa mendirikan ribuan sekolah dan yayasan pendidikan di Jawa Barat. Ia juga merupakan aktor utama dalam pembentukan organisasi massa yakni Persatuan Umat Islam (PUI). Sedangkan rekan seperjuangannya KH Abdul Halim dari Majalengka sudah setahun yang lalu mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
Kendati hanya mendapatkan bintang Mahaputera Adi Pradana, sebuah kebanggaan bagi pemerintah daerah dalam memperingati Hari Pahlawan Selasa (10/11) kemarin. Hal tersebut diungkapkan Wakil Walikota Sukabumi Drs. H.Mulyono usai memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan yang dipusatkan di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi Selasa (10/11) kemarin.
saja menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk berusaha dan mendorong agar KH Ahmad Sanusi dianugrahi gelar Pahlawan Nasional. Alhamdulillah Pemerintah Pusat masih memberikan perhatian besar terhadap tokoh panutan kita ini,” kata Mulyono.
Sebuah bentuk penghargaan telah diperlihatkan dengan diabadikannya nama KH Sanusi pada sebuah lintasan jalan di Kota Sukabumi. Hal ini merupakan salah satu bentuk apresiasi  pemerintah daerah dan masyarakat Sukabumi terhadap KH Ahmad Sanusi atas dedikasi serta perjuangannya dalam melawan berbagai bentuk penjajahan.  Tidak hanya itu, Mulyono mengingatkan masyarakat untuk menerus sepak terjangnya dengan memelihara apa yang menjadi peninggalannya.
Sementara itu Drs. KH. Saprudin Amir mewakili pihak keluarga besar KH. Ahmad Sanusi mengaku bangga atas kehormatan yang diberikan pemerintah pusat. Amir yang juga mantan anggota DPRD Jabar dari F PPP ini mengucapkan terimaksih yang sebesar besarnya kepada pemerintah daerah dan masyarakat atas segala upaya yang telah ditempuh dalam mengusulkan KH Sanusi sebagai Pahlawan Nasional. Meski belum mendapat gelar Pahlawan Nasional, perjuangan KH Ahmad Sanusi bisa dikatakan sebagai perjuangan tanpa batas.

Budi Darmawan
redaksi@jurnalbogor.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: